Pesantren merupakan pusat pendidikan agama yang bersifat tradisional. Para santri diajarkan bagaimana manusia dapat berhubungan dengan Tuhan dan juga lingkungan sekitar. Konon, terdapat sebuah pesantren di satu daerah yang begitu kental dengan dunia tasawuf. Dan di pesantren tersebut terdapat seorang santri yang begitu sholeh dan disenangi oleh asatidz dan santri lainnya, sehingga memunculkan kecemburuan beberapa orang santri. Melihat keadaan yang demikian seorang ustadz mengumpulkan semua santrinya di aula pesantren. Dengan sedikit pengantar kemudian pak ustadz, memberikan tugas kepada para santri untuk menyembelih seekor ayam. Tetapi pak ustadz memesankan kepada para santrinya agar jangan menyembelih ayam tersebut jika masih ada yang melihatnya. Para santri diberi kebebasan untuk menyembelih ayam itu dimana saja yang mereka kehendaki. Dan tugas ini dilaporkan pada pak ustadz esok hari di aula pesantren.
Setelah melaksanakan tugas dari pak ustadz, para santri pun berkumpul di aula pesanter dengan membawa ayam yang telah disembelih. Pak ustadz kemudian bertanya kepada seorang santri, “Dimana kamu menyembelih ayam ini..?” “saya menyembelihnya di belakang rumah saya ustadz, tetapi sebelumnya saya lihat dulu sekeliling saya dan tidak ada siapapun yang melihat..!” jawab si santri dengan yakinnya. Kemudian pak ustadz bertanya kepada para santri, “Adakah diantara kalian yang tidak menyembelih ayamnya..?”. Seorang santri yang soleh berdiri sambil menundukan kepala, dan para santri yang tidak senang mentertawainya…Dan pak ustadz meminta alasannya mengapa ia tidak menyembelih ayamnya. Dengan tenang si santri menjawab,“ketika saya akan menyembelih ayam ini, saya merasa Allah selalu memperhatikan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menyembelihnya. Dan atas ketidaktaatan saya, saya siap dihukum oleh pak ustadz.”
Kemudian pak ustadz bangkit lalu berkata, “ini lah sebabnya mengapa para ustadz senang padanya”. Dan pak ustadz pun pergi meninggalkan aula.
