Oleh: rumahdamai | 26 Juni 2008

“…masih ada Yang Lihat.”

Pesantren merupakan pusat pendidikan agama yang bersifat tradisional. Para santri diajarkan bagaimana manusia dapat berhubungan dengan Tuhan dan juga lingkungan sekitar. Konon, terdapat sebuah pesantren di satu daerah yang begitu kental dengan dunia tasawuf. Dan di pesantren tersebut terdapat seorang santri yang begitu sholeh dan disenangi oleh asatidz dan santri lainnya, sehingga memunculkan kecemburuan beberapa orang santri. Melihat keadaan yang demikian seorang ustadz mengumpulkan semua santrinya di aula pesantren. Dengan sedikit pengantar kemudian pak ustadz, memberikan tugas kepada para santri untuk menyembelih seekor ayam. Tetapi pak ustadz memesankan kepada para santrinya agar jangan menyembelih ayam tersebut jika masih ada yang melihatnya. Para santri diberi kebebasan untuk menyembelih ayam itu dimana saja yang mereka kehendaki. Dan tugas ini dilaporkan pada pak ustadz esok hari di aula pesantren. Baca Lanjutannya…

Oleh: rumahdamai | 25 Juni 2008

Sempit…!!!

Ada sebuah keluarga yang hidup dengan keadaan ekonomi yang cukup. tinggal di rumah yang sederhana. berkat karunia Allah Ta’ala suami istri ini di karuniai tiga orang anak, anehnya ketiga anaknya ini begitu aktifnya. karena menghadapi kondisi rumahnya yang berantakan, si kepala kelurga bersilaturahmi kepada seorang kyai dengan harapan mendapatkan nasihat yang berguna untuk ketentraman keluarganya.

“Pak kyai, saya sudah tidak tahan dengan keadaan dan kondisi rumah saya yang sudah tidak bisa menampung keluarga saya pak, tolong pak kyai beri saya nasehat agar keadaan keluarga saya tidak seperti itu lagi.” keluh si kepala keluarga. dengan ringan pak kyai memberi nasehat, “beli ayam kampung tiga ekor, Baca Lanjutannya…

Oleh: rumahdamai | 23 Juni 2008

“Tuhan saya jahat…!”

Setelah sholat dhuhur, seperti biasanya saya pergi ke dapur jamiah untuk makan siang bersama. di perjalanan pulang menuju asrama, anang, kakak tingkat saya selalu saja memuji Allah Ta’ala, “Alhamdulillah, betapa baiknya Tuhan saya. ketika saya lapar Ia berikan rizki-Nya, ketika saya tidak tahu apa pun Ia berikan saya ilmu…” ditengah untaian pujiannya, kemudian saya menyela, “ngga..tuhan saya jahat..!” “kenapa begitu..” pak anang terkejut. “ya…tuhan saya selalu menguji saya, dan setiap kali diuji saya selalu kalah..”. mendengar alasan saya dengan tenang pak anang kemudian menjelaskan…”itu bagus…”(saya bengong) “kok bagus..!” pak anang menambahkan, “kalau kamu diuji oleh Tuhan, kemudian kamu selalu ‘menang’ justru itu akan menjadikan kamu sombong, karena merasa diri suci.” tetapi dengan kamu kalah dan kalah lagi, itu justru akan membuat kamu sadar bahwa kamu itu manusia, makhluk yang lemah, butuh pertolongan Tuhan..”

Oleh: rumahdamai | 22 Juni 2008

harga diri

marahMinggu pagi, saya mendapat telpon untuk peliputan suatu acara dengan gus mis. Dan saya berangkat ke kantor dengan menggunakan angkutan kota, di dalam angkutan kota yang saya naiki terdapat beberapa penumpang di dalamnya. diantaranya seorang pemuda dengan rambut anggak gondrong dan juga seorang nenek, keduanya telah saling kenal hal itu terlihat dari obrolan mereka. Tak lama kemudian, naik dua penumpang, seorang kakek dan ibu muda. Si pemuda ini pun terlihat akrab dengan kedua penumpang bahkan ia cium tangan pada kakek tersebut. Setelah beberapa ratus meter melaju, si pemuda dan kakek itu turun, lalu dengan sigap ia membayar ongkosnya dan juga si kakek. Uang lima ribu puah pun ia berikan pada bang sopir. Dengan wajah cuek, bang sopir langsung menancap gas mobil nya dengan kecepatan yang tinggi. Beberapa orang penumpang di dalam angkot tersebut teriak, karena mereka melihat pemuda yang baru saja turun mengacungkan kepalan kearah angkot yang telah melaju kencang ini. Dan bukan hanya itu, pemuda itu pun mengejar mobil angkot yang saya tumpangi dengan menaiki mobil angkot yang ada di belakangnya. kejar-kejaran pun tak terelakan, bahkan penumpang di pinggir jalan yang akan naik pun di acuhkan. setelah jauh meninggalkan mobil yang di belakangnya, si sopir langsung membelokan angkotnya ini kesebuah bengkel sambil meminta kepada saya dan penumpang yang lain untuk pindah ke mobil yang lain. Dalam hati saya bergumam, harga-harga barang sudah naik, tetapi kenapa hanya karena uang kembalian seribu rupiah mereka rela menjatuhkan harga dirinya.

Gambar : popsy.wordpress.com

Oleh: rumahdamai | 17 Juni 2008

Mengumpulkan Kerikil

Ketika saya “singgah” di jamiah, saya bertemu dengan seorang dosen. Bapak dosen itu kemudian bercerita kepada saya dan juga beberapa teman yang kebetulan hadir pada saat itu. Beliau bercerita tentang seorang pemuda yang sedang melakukan perjalanan jauh. Dalam menempuh perjalanan tersebut, si pemuda ini sudah terlihat begitu lelah. Dia berjalan dengan langkah yang terseak-seak. Ditengah perjalanannya, ia bertemu dengan seorang kakek yang sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang. Si pemuda melihat kakek tua itu begitu menikmati istirahatnya. Tetapi lama kelamaan, si pemuda itu menjadi takut, dalam hatinya terbersit tanya “…..?!”
kakek tua ini sedang istirahat atau ia sudah meninggal..? Baca Lanjutannya…

Oleh: rumahdamai | 17 Juni 2008

Rumahku

Ketika Alladin melakukan pengembaran, ia bertemu dengan mahluk yang sangat buas yang akan memakannya. Namun anehnya, mahluk itu memberikan tantangan kepada aladin dengan beberapa pertanyaan, jika aladin tidak ingin dimakan hidup-hidup maka ia harus menjawab semua pertanyaan mahluk buas itu dengan benar. Diantara partanyaan yang dilayang kepada aladin ;

1. apakah tempat yang paling aman, ketika manusia terancam bahaya di kehidupan liar?

2. apakah tempat yang paling nyaman, ketika manusia merasa lelah mencari apa yang selama ini menjadi beban hidupnya? Baca Lanjutannya…

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.